Seni Menjaga Etika lingkungan Hidup Yang Bersih Dan Indah



Sidoarjo.- inspirasiglobal.net - Perjuangan mengembalikan kesadaran ekologis merupakan perjuangan yang paling fundamental, sebuah upaya untuk merestrukturisasi kesadaran diri dari kediktatoran manusia menuju kedaulatan semesta.

Banyak yang  begitu fasih berbicara mengenai kontribusi, peran serta, dan pengorbanan, namun diam-diam di balik kata-kata indah itu, kita masih kerap menghitung apa keuntungan yang akan diperoleh.

Di ruang kehidupan ini, banyak dijumpai sosok-sosok manusia yang seolah berjalan bergandengan tangan dengan kekuasaan dan penguasa, namun di sisi lain tetap berusaha mendampingi serta mendukung kaum yang lemah dan tertindas. Dari pandangan mata yang terbatas, semua tampak sama, berjalan searah, dan memiliki tujuan mulia.

Padahal sejatinya, setiap langkah dan tindakan itu sering kali lahir dari latar belakang, motivasi, dan kepentingan yang sangat berbeda satu sama lain.


Dari proses panjang mengamati, melihat, dan merasakan langsung persoalan yang ada di lapangan, dari keterlibatan nyata dalam upaya-upaya perbaikan yang berat, serta lahir dari kesadaran jernih bahwa persoalan lingkungan hidup, khususnya masalah limbah cair dan air bukanlah sesuatu yang dapat diselesaikan dengan wacana indah, teori belaka, atau sekadar peraturan di atas kertas saja.


Dari konteks itulah, praktisi lingkungan hidup, Romi Harris Saputra melahirkan dua buah karya berupa buku :


1. HIPNOSIS:

Seni Dalam Menjaga Etika Lingkungan Hidup.


Terbit bulan Februari 2024, Romi Harris Saputra berkolaborasi bersama Aplikator alat instalasi pengolah air limbah (IPAL) Akhmad Syahruddin.


2. COMMON SENSE IN ACTION:

Membangun Kesadaran Etika Melalui Pengolahan Air Limbah.


Romi Harris Saputra bersinergi dengan dua orang akademisi asal Bangkalan, Kresna Bayu (Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bangkalan) dan Bahrulloh (Kepala Bidang HAM dan lingkungan hidup Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bangkalan), serta  aplitor ipal asal Bangkalan, Akhmad Syahruddin. Buku ini terbitbdi bulan Agustus 2026.


Kedua buku ini lahir bukan dari ruang kerja yang steril, bersih, dan bebas sama sekali dari segala bentuk tendensius.

Melainkan, lahir dari ruang dan kenyataan yang berusaha jujur menatap realitas apa adanya.


Dua buah buku ini memiliki makna yang jauh melampaui sebuah penerbitan biasa.


Tidak banyak buku yang mampu menyatukan dalam satu halaman dukungan dari seorang jenderal polisi dari Mabes Polri, seorang wakil kepala kejaksaan tinggi, perwira menengah dari Polda dan BIN, komandan pangkalan militer, rektor universitas, kepala puskesmas, hingga pemimpin organisasi keagamaan terbesar di tingkat cabang.

Namun buku inilah yang berhasil melakukannya dan itu bukan kebetulan. Itu adalah cerminan dari bobot persoalan yang diangkat dan ketulusan niat yang mendasarinya.


Ada sebuah prinsip tua dalam dunia akademik dan kebijakan, sebuah gagasan baru memerlukan dua hal untuk dapat bergerak mengubah dunia kebenaran dan kepercayaan. Kebenaran ditemukan melalui riset, observasi, dan pengalaman lapangan. Kepercayaan dibangun melalui pengakuan dari mereka yang memiliki otoritas dan rekam jejak yang diakui publik.

Buku “Hipnosis Seni Dalam Menjaga Etika Lingkungan Hidup" dan buku "Common Sense In Action Membangun Kesadaran Etika Melalui Pengolahan Air Limbah” telah memiliki keduanya,


Membaca keseluruhan dukungan-dukungan tersebut, satu hal menjadi terang benderang, buku ini hadir pada saat yang tepat, dari tempat yang mungkin tidak diduga oleh banyak orang.


Bagi pemerintah daerah, buku ini adalah referensi kebijakan yang tidak membutuhkan birokrasi panjang untuk dipahami. Bagi aparat penegak hukum, ia adalah peta kesadaran yang membantu menjawab pertanyaan mengapa penegakan hukum lingkungan sering kali menemui jalan buntu ketika tidak ada kesadaran publik yang mendukungnya. Bagi akademisi, ia adalah karya yang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan paling berdaya guna ketika ia turun ke tanah dan bersentuhan langsung dengan kehidupan. Bagi tokoh agama, ia adalah manifestasi dari ajaran bahwa menjaga bumi adalah ibadah.


Dan bagi masyarakat luas, ia adalah undangan bahwa peduli pada lingkungan bukan hak eksklusif para ahli, melainkan tanggung jawab setiap orang yang masih menghirup udara dan meminum air di bumi yang sama ini.(Bln).

Post a Comment

أحدث أقدم